Minggu, 13 April 2014

Tata Letak Fasilitas (2)


Permasalahan Tata letak fasilitas atau biasa disebut dengan Facility layout Problem (FLP), merupakan permasalahan penempatan fasilitas didalam suatu area. Fasilitas adalah suatu elemen yang memberikan manfaat pada pekerjaan, seperti; departemen, mesin, gudang, manufacturing cell, dll (Heragu, 2008). Menurut Meller (2006) Fasilitas merupakan elemen yang diperlukan dalam kegiatan produksi, sehingga tidak hanya berupa peralatan manufaktur yang bisa dikatakan fasilitas tetapi juga termasuk sistem pelayanan, rumah sakit, sekolah, bandara, gudang, dll (Singh dan Sharma, 2006). Menurut Wignjosoebroto (1991) tata letak fasilitas didefinisikan sebagai tata cara pengaturan fasilitas-fasilitas fisik pabrik guna menunjang kelancaran proses produksi. Pengaturan tersebut mempetimbangkan luas area yang akan ditempati, sistem material handling, rentang waktu penggunaan lantai produksi, dsb. Koopman dan Backman (1957) mengklasifikasikan tata letak sebagai suatu permasalahan umum dalam dunia industri dengan tujuan menata fasilitas sehingga bisa meminimasi biaya perpindahan material. Shayan dan Chittilappilly (2004) mendafinisikan tata letak fasilitas sebagai problem optimasi yang mencoba membuat tata letak lebih efisien dengan mempertimbangkan interaksi antara fasilitas dan material handling.


Pada umumnya tata letak fasilitas yang baik akan memberikan efisiensi dan dalam beberapa kasus akan menjaga kelangsungan hidup atau kesuksesan kerja dari suatu perusahaan. Peralatan produksi yang mahal harganya dan secanggih apapun tidak akan berpengaruh banyak pada proses produksi jika tidak didukung dengan tata letak yang bagus. Penataan fasilitas yang bagus akan bermanfaat pada efisiensi produksi (Kouvelis dkk, 1992) karena hal ini berdampak langsung pada biya produksi, lead time, Work in process dan produktivitas. Kira-kira 20%-50% dari biaya produksi digunakan untuk biaya material handling, padahal sebenarnya hal ini bisa dikurangi 10%-30 % jika menggunkan model yang efisien (Francis dan White, 1974). 


Tujuan dari FLP adalah untuk mendapatkan susunan fasilitas yang efektif dengan mempertimbangkan berbagai batasan yanga ada. Secara umum fungsi tujuannya adalah untuk meminimasi biaya material handling pada lantai produksi, tetapi juga bisa diubah menjadi fungsi memaksimalkan utilitas ruang, fleksibelitas, kenyamanan dan keamana pekerja (Muther, 1955). Beberapa tujuan lain dari FLP menurut Muller (1996) adalah:


  1. Memiliki aliran material yang seimbang untuk mengurangi bottleneck dalam produksi
  2. Mengurangi jarak perpindahan material
  3.  Menggunakan ruang secara efektif
  4.  Meningkatkan kepuasan dan keamanan pekerja
  5.   Memperoleh fleksibilitas sehingga dapat dengan mudah diatur ulang untuk perubahan kondisi


Selain itu, tata letak fasilitas yang bagus juga bisa mempermudah dalam proses supervisi serta kemungkinan menghadapi rencana perluasan pabrik (Wignjosoebroto, 1991). Secara garis besar tujuan utama dari tata letak fasilitas adalah mengatur fasilitas sehingga memberikan keuntungan bagi perusahaan.

Sampai saat ini sudah banyak artikel dan jurnal yang meneliti masalah tata letak fasilitas, antara penelitian satu dengan yang lain mempunyai perbedaan, tergantung dari karakteristik model fasilitas yang diteliti, misalnya berdasarkan jenis produksinya, bentuk layout-nya, sistem material handling-nya (Drira dkk, 2007). Begitu juga ketika dilihat dari cara menyelesaikan dan cara penyusunan layout. Secara sederhana karakteristik yang membedakan dari penelitian-penelitian tata letak fasilitas bisa dipetakan seperti Gambar berikut:
 Gambar  Karakteristik tata letak fasilitas (Drira dkk, 2007)

========================================================================

  • Heragu , S.S. (2008), Facilities Design, 3rd edition, CRC Press, New York
  • Meller, R.D.; Chen, W. dan Sherali, H.D.(2007), “Applying the Sequence Pair Representation to Optimal Facility Layout Problems”, Operations Research Letters, Vol. 35,  N. 5, pp. 651-659
  • Singh, S.P. and Sharma, R.R.K.(2006), “A Review of Different Approaches to the Facility Layout Problems, International Journal  of Advanced Manufacturing Technology, Vol. 30, pp. 425–433
  • Wignjosubroto, S. (1991), Tata Letak Pabrik dan Pemindahan Bahan, Guna Widya, Jakarta
  • Koopmans, T.C. dan Beckmann, Y-D.(1957), “Assignment Problems And The Location Of Economic Activities”, Econometrica. Vol. 25,  N. 1, pp. 53-76
  • Kouvelis, P.; Kurawarwala, A.A. dan Gutiérrez, G.J.(1992), “Algorithms for Robust Single and Multiple Period Layout Planning for Manufacturing Systems, European Journal of Production Research, Vol. 63, pp. 287-303
  • Francis R.L. dan White, J. A.(1974), “Facility Layout And Location: An Analytical Approach”,, Prentice Hall, Englewood Cliffs, NJ
  • Muther, R.(1955) Practical Plant Layout. McGraw-Hill. New York
  • Drira, A., Pierreval, H. dan Gabouj, S.H., (2007), “Facility Layout Problem: A Survey”, Annual Review in Control, Vol.31, 255-267

Tidak ada komentar:

Posting Komentar